Tampilkan postingan dengan label kwalitas air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kwalitas air. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

Kendala Pembenihan Gurame 2

Setelah 0-6 hari di bak, telur-telur tersebut menetas. Selanjutnya ukuran ini di sebut se-biji padi. Pada ukuran ini cadangan makanan mulai habis sehingga butuh di belajari makan. Gerakan mereka pun kian gesit, harus di pindah ke kolam semen. Untuk ukuran perbandingannya menurut pengalaman saya, lebar 2 panjang 5 untuk sekitar 15rb nener. Ketinggian airnya kira-kira 30cm. 

Di kolam ini ikan gurame kecil mulai di sapih dengan pakan. Biasanya di beri cacing sutra. Takaran pemberian cacing ini harus sepadan dan berimbang. Maksudnya, ketika terlalu banyak cacing yang di berikan dan ikan tidak habis memakannya maka air akan tercemar. Sedangkan antibody nener sedang terbentuk sehingga sangat rawan mati. oleh karena itu kwalitas air perlu di jaga.

Kwalitas air yang terjaga adalah tidak terlalu asam tidak terlalu basa tidak kekurangan oksigen. Maka dari itu sebisa munggkin jika hujan debit air hujan di tekan. Lebih baik lagi tidak masuk secara langsung ke kolam. Ketinggian air harus di perhatikan juga. Jika ada gejala putih-putih di tubuh ikan berarti di serang jamur. Ini di sebabkan hangatnya matahari tidak masuk sampai dasar. Sehingga daerah dasar lebih lembab.  

Selain kwalitas air, kemungkinan lumut akan tumbuh. Lumut ini bisa menjerat nener sehingga mati. Cara penanganannya adalah dengan di taburi pasir, sehingga lumut tadi jadi tenggelam ke dasar.

Biasanya pemijah menganti-ganti kolam agar kualitas air tetap bagus. Biasanya di lakukan 7 hari sekali. Selain air yang bagus, ikan jadi lebih nafsu makan. Umumnya nener di kolam semen sampai usia 30 hari. Kira-kira telah mencapai ukuran setengah sentimeter hingga 1cm.

Kamis, 19 April 2012

Kendala Pembenihan Gurame 1

    Beberapa bulan yang lalu saya melakukan pembenihan gurame. Dimulai dari telur hingga ukuran korekan. Disini saya akan berbagi kendala yang saya alami dalam hal pembibitan ini.

    Karena saya mulai dari beli telur, maka saya tidak tahu bagai mana kualitas indukan dari telur yang saya beli. menurut beberapa teman saya indukan yang muda membuat telur kurang tahan ketika di tetaskan. Sebaliknya, jika indukan sudah berumur maka lebih tahan. Yang saya alami waktu penetasan di bak-bak penetasan adalah banyak telur yang mati atau bonor. Selain karena faktor telur itu sendiri, hama luar, kebersihan air, dan kapasitas bak penetasan juga jadi kendala. 

     Hama dari luar yang saya maksud dan saya cegah waktu kemarin menetaskan telur adalah kodok, tikus, cecak, coro, dan kucing. Karena sedikit banyak jika mereka mampu menjangkau bak-bak penetasan, maka sedikit banyak akan berkurang telur-telur itu. Walau tidak di makan kemungkinan akan di rusak atau rusak secara tidak sengaja.


     Untuk kebersihan air, dari penggalaman saya ini adalah faktor yang sangat sensitif. Karena tidak kurang dari 10 bak penetasan saya gagal gara-gara air kurang bersih. Standartnya pakai air yang sudah di endapkan semalam, walaupun air yang baru dari kran bisa di pakai. Kotoran dari telur yang mati atau tidak menetas harus segera mungkin di bersihkan. Kalau tidak akan njamur. Jika dibiarkan, sebelum njamurpun telur mati mencemari kwalitas air dengan minyaknya. 

      Kapasitas bak ini adalah kendala bagaimana mengukur kira-kira bak ukuran segini sanggup untuk menetaskan berapa telur. Ini sulit di kira-kira karena berhubungan dengan angka kehidupan telur dan kwalitas telur tadi.

    Fase ini adalah umur 0 - 6 hari. Untuk kendala berikutnya akan saya sambung lain kali.